Mudik, mungkin sebagian besar orang di republik ini sudah sangat kenal dengan istilah ini, Pulang kampung. Mungkin rutinitas tersebut dilakukan sebagian orang ( yang merantau) hanya dalam waktu setahun sekali,dua tahun sekali dan atau beberapa tahun sekali sesuai yang telah dijadwalkan. Namun berbeda dengan saya, pulang kampung saya lakukan sesuai dengan kebutuhan sya, jika saya memerlukan mudik setahun 2 kali atau 4 kali pun akan saya lakukan, dengan kata lain semau-mau saya lah.
Ini saya laukan apabila Pertama, kemampuan berbahasa daerah saya mulai luntur, berbulan atau bertahun berkomunikasi menggunakan bahasa formal terkadang sedikit kesulitan untuk mengingat beberapa kosakata asli daaerah saya, mengingat pentingnya hal tersebut saya rela menghabiskan sedikit tabungan atau meninggalkan beberapa pekerjaan kecil hanya untuk sekedar bisa berdialog menggunakan bahasa daerah saya tersebut.
Kedua : Rindu yang merusak konsen. Saya adalah tipe orang yang tidak bisa tidak jika menginginkan sesuatu, tidak bisa menunda setiap hal yang sudah saya rencanakan, terlebih keinginan pulang kampung yang sudah kronis. Terhadap nenek, makwo (Bude) sepupu, atau kepada kedua keponakan ku yang lucu-lucu. apapun yang menghalang, sudah barang harus disingkirkan.
Ketiga : Ada yang sakit atau meninggal dunia. Ini adalah alasan yang paling sangat mendesak jika saya diharuskan pulang kampung, yaitu jika ada keluarga terdekat meninggal dunia, saya bersedia meninggalkan pekerjaan terpenting sekalipun untuknya, bagaimanapun dan apapun itu. dan beberapa alasan lain yang masih sangat banyak menurut saya.
Hari ini saya melakukan ritual tersebut, "mudik semau gue" saya menyebutnya, alasannya adalah karena keponakan kecil saya yang berulang tahun, padahal kebetulan saya sudah rindu berat memancing ikan di sungai tempat saya dan sepupu memancing selagi kecil dulu. walau mudik bukanlah hal yang jarang saya lakukan, namun ada hal yang mengejutkan saya hari ini.
Siapa ini ? tanya seorang ibu setengah baya di depan saya seraya menudingkan jari telunjuk tepat di depan muka saya, saya kaget, hera, dan bertanya dalam hati : siapa orang ini ?" Ini Trisna, jawab nenek yang berada di sebelah saya, saya pun menjulurkan tangan pertanda bersedia mengenalkan diri, "hawa" jawabnya, ternyata benar, dugaan saya sebelunya bahwa orang inilah yang pertama kali ke rumah ini, Ini istri kedua pamanmu jawab nenek tanpa ku tanya sebelumnya, " Sialan, saya sedikitpun belum berfikit untuk meminang anak orang, paman sudah beristri dua, tak cukupkah sdtrinya yang cantik itu ?" gumamku dalam hati.
No comments:
Post a Comment