Bibit Memaafkan
Ciri utama para sahabat dengan beban mental yang berat kemudian jatuh sakit, mereka menggendong masa lalu demikian beratnya. Begitu beban itu jauh melebihi kemampuan, maka sakit yang menjadi tamu kehidupan kemudian.
Dan faktor terpenting yang membuat
masa lalu demikian beratnya adalah ketidakmampuan seseorang untuk
memaafkan. Padahal, dalam kadar yang berbeda semua orang memiliki masa
lalu yang gelap. Bila orang biasa menggendongnya, para master sudah lama melepaskan gendongan ini di belakang.
Untuk itu tidak ada pilihan lain,
memaafkan masa lalu serupa bibit kesembuhan yang ditanam di dalam.
Caranya sederhana, kita tidak bisa kembali ke masa lalu dan
memperbaikinya, tapi kita bisa merubah cara memandangnya. Begitu cara
memandangnya berubah, hidup pun berubah. Dalam bahasa spiritual, tidak
ada kebetulan, hanya bimbingan-bimbingan. Dengan berfokus pada
bimbingan, maka cengkraman memori buruk masa lalu menjadi semakin
longgar.
Air Penerimaan
Lebih-lebih bila cengkraman memori
buruk masa lalu yang sudah mulai melonggar ini, kemudian disirami oleh
air penerimaan. Di zaman di mana sulit sekali mencari orang yang layak
dipercaya (trustless society), masih tersisa satu orang yang bisa mengerti diri kita secara utuh, yakni diri kita sendiri.
Dan diri kita bisa mengerti diri
ini kalau kita belajar menerima diri ini apa adanya. Seperti bunda
semesta menerima pohon kelapa bertumbuh di tempat panas, menerima pohon
cemara bertumbuh di tempat sejuk, bagus sekali kalau bisa menerima bahwa
semua kejadian memiliki waktu dan tempatnya masing-masing.
Kejadian baik adalah energi yang
memotivasi. Kejadian buruk adalah pelajaran untuk semakin tahu diri.
Menerima kejadian baik dan buruk sebagai sepasang pesan yang sama-sama
membimbing, itulah air yang bisa disiramkan pada bibit kesembuhan yang
sudah ditanam di dalam.
Bunga Kesembuhan
Di dunia kesembuhan, sudah lama dicatat bahwa kata health (kesehatan) berasal dari kata whole
(keseluruhan). Kesembuhan mungkin terjadi, bila kita belajar mamandang
semuanya - termasuk badan, pikiran, spirit - secara utuh dan menyeluruh.
Seperti sebuah pohon, sakit fisik
serupa daun yang kering. Di balik daun kering sakit fisik ada batang
ketidakseimbangan emosi. Dan akarnya adalah keterhubungan spiritual. Di
tingkat keterhubungan spiritual, semuanya adalah satu (utuh).
Sakit-sehat, senang-sedih, suka-duka semuanya adalah pasangan yang utuh.
Itu sebabnya, di sesi meditasi
kerap diungkapkan kalau sakit-sehat, senang-sedih serupa gelombang. Dan
kesembuhan lebih dekat dengan samudra. Perlu dicatat rapi, gelombang
mana pun tidak pernah mengganggu samudra. Untuk itulah, kesembuhan di
jalan meditasi sangat dekat dengan psikologi mengalir. Dalam bahasa
meditasi: terima, mengalir, senyum. Pada waktunya, semua akan pulang ke
samudra kesembuhan yang sama.
————–
Catatan:
1. Salah satu energi di alam yang
membantu kita tersembuhkan dan terhubung adalah energi sukacita. Untuk
itu, banyak bersyukur, ungkapkan doa terimakasih setiap hari tanpa
mengenal henti. Habiskan lebih banyak waktu bersama anak-anak. Karena
anak-anak menyimpan banyak energi sukacita
2. Belajar mengistirahatkan batin
dalam keheningan. Sederhananya, kurangi menghakimi, lihat kesempurnaan
yang ada di balik setiap ciptaan, ingat selalu bahwa semua adalah tarian
kesempurnaan yang sama
3. Sekurang-kurangnya tiga kali
seminggu, habiskan waktu di alam terbuka seperti taman, sungai, pantai,
gunung, danau, dll. Belajar terhubung melalui rasa dan keheningan. Ada
yang meneliti, hasilnya serupa dengan meminum obat anti depresi.
Gp
Gp


















